BLOG FITRI MEILY

Senin, 05 Januari 2026

AKU

Oleh : Nadhifa Salsabila

 

Pernah ada masa di mana aku merasa sangat ragu pada diriku sendiri. Aku menganggap diriku lemah, bahkan sampai membenci diri sendiri karena aku merasa tidak pernah mampu menghasilkan sesuatu yang sempurna, sedangkan orang lain bisa melakukannya dengan baik.

Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain. Mereka terlihat begitu mudah menghasilkan karya yang indah, menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang luar biasa. Sedangkan aku? Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya terasa biasa saja. Aku merasa kecewa dan lelah dengan diriku sendiri.

Aku berulang kali mencoba memahami dan menoleransi diriku. Aku berkata pada diriku, “Tidak apa–apa, kamu sudah berusaha.” Namun jauh di dalam hati aku ingin bisa lebih. Aku tidak hanya ingin bisa, tetapi hebat. Aku ingin menguasai banyak hal, bukan sekadar melakukannya dengan standar biasa.

Aku terus belajar. Aku memperbaiki kesalahan satu per satu. Aku mencoba berulang kali hingga larut malam. Tapi kenyataannya, hasil yang kuporeh tetap belum sempurna. Rasa sakit itu makin dalam. Ketika aku sadar, orang–orang yang kuanggap tempat bersandar ternyata bisa saja mengkhianati, menyakiti, bahkan membohongiku. Aku merasa sendiri menghadapi semuanya.

Dari semua itu, aku mulai belajar menerima kenyataan. Aku mulai menulis, merenung, dan berbicara lembut pada diriku. Aku berkata, “Tak apa–apa gagal, yang penting kamu mau terus berjuang.” Aku mulai berdamai dengan diri sendiri, sedikit demi sedikit, meski sulit.

Aku menyadari bahwa seburuk apa pun aku menilai diriku, pada akhirnya hanya aku sendiri yang dapat mengandalkan diriku untuk bangkit dan bertahan. Hanya aku yang selalu ada untuk diriku. Dan itu cukup untuk melangkah maju menghadapi dunia.

Sekarang aku belajar untuk tidak terlalu keras pada diriku sendiri. Aku mungkin belum sempurna, tetapi aku berharga. Aku mungkin belum menguasai segalanya, tetapi aku sedang berproses. Dan aku tahu, selama aku mau melangkah, aku tidak akan pernah benar-benar kalah.

 

REFERENSI

Oscar Defi. 2025. Cerita Tentang Diri Sendiri. x.com. Diakses 22 September 2025

Cinta Putih. 2025. Share Tentang Pengalaman. x.com. Diakses 22 September 2025

 

SEMANGAT DI LAPANGAN PASIR

Oleh : Muhammad Ihsan

 

Suatu sore yang cerah, langit biru membentang di atas lapangan pasir belakang SMP Merdeka. Tim voli sekolah sedang bersiap untuk latihan rutin mereka. Bola-bola bewarna oranye tergeletak di sisi lapangan, sementara suara tawa dan semangat para pemain mengisi udara sore itu. Rina, sang kapten tim, berdiri di tengah lapangan. Dia adalah sosok yang disiplin namun juga penuh semangat.

“Teman-teman, hari ini kita latihan fokus pada kerja sama dan komunikasi! Jangan takut salah, yang penting kita belajar,” serunya.

Latihan pun dimulai. Servis demi servis dilakukan, beberapa melenceng, beberapa sempurna. Ansi yang biasanya gugup saat bermain, kali ini mencoba lebih percaya diri.

“Ayo Andi, kamu pasti bisa!” kata Rina memberi semangat. Dan benar saja, servis berikutnya meluncur tepat ke arah lawan. Semua bertepuk tangan.

Waktu berjalan cepat, matahari mulai condong ke barat. Peluh membasahi wajah, tapi semangat tak surut. Pelatih mereka, Pak Danu, tersenyum melihat perkembangan timnya.

“Kerja bagus! Tapi ingat, kunci kemenangan ada pada kekompakan,” pesannya.

Beberapa hari kemudian, SMP Merdeka mengikuti pertandingan persahabatan melawan SMP Maju Jaya. Di awal pertandingan, mereka sempat tertinggal jauh. Servis Rina ditahan lawan, dan beberapa bola smes dari tim mereka ke luar lapangan. Namun, tidak ada yang menyerah. Mereka saling menyemangati dan memperbaiki strategi.

“Tenang, jangan panik! Fokus ke bola berikutnya!” teriak Rina.

Kata-kata itu membangkitkan semangat seluruh tim. Ansi melakukan blok sempurna, Siska berhasil menahan bola sulit, dan akhirnya mereka berhasil menyamakan skor. Set point pun tiba. Skor 24–23, hanya satu poin lagi. Rina mengambil posisi servis.

Dia menarik napas dalam, menatap lapangan lawan, lalu melempar bola ke udara dan memukul dengan penuh keyakinan. Bola meluncur cepat, melewati net, dan jatuh tepat di tengah lapangan lawan. Sorak-sorai pun pecah, SMP Merdeka menang!

Setelah pertandingan, mereka berkumpul di tengah lapangan. Rina berkata dengan senyum lelah namun bahagia, “Kemenangan ini bukan karena aku, atau satu orang saja. Ini karena kita semua saling percaya dan bekerja sama.” Pelatih Danu menepuk bahu mereka.

“Kalian membuktikan, dalam voli maupun kehidupan, kerja sama dan semangat pantang menyerah selalu membawa hasil terbaik.”

Sejak hari itu, tim voli SMP Merdeka menjadi contoh bagi siswa lain. Mereka bukan hanya dikenal karena kemenangan, tetapi karena semangat dan persaudaraan yang mereka tunjukkan di lapangan pasir.