BLOG FITRI MEILY

Senin, 29 Desember 2025

PENTINGNYA BAHASA INGGRIS DI ERA GLOBAL

Oleh : Muhammad Irsyad Zamharir

 

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang memegang peran sangat penting di dunia modern. Menguasai bahasa ini bukan hanya sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah kebutuhan yang harus dimiliki setiap individu agar mampu bersaing secara global.

Saya berpendapat bahwa menguasai bahasa Inggris dapat memberikan banyak manfaat baik dalam bidang pendidikan, komunikasi global, maupun peluang karier. Dengan bahasa, Inggris, seseorang dapat membuka pintu menuju pengetahuan, membangun relasi internasional, dan meningkatkan daya saing di dunia kerja. Pertama, dalam bidang pendidikan, bahasa Inggris adalah kunci untuk mengakses ilmu pengetahuan dunia. Sebagian besar buku, jurnal, dan penelitian internasional ditulis dalam bahasa Inggris. Banyak universitas ternama di dunia juga menggunakan bahasa ini sebagai bahasa pengantar. Oleh karena itu, siswa yang menguasai bahasa Inggris memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh beasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar, atau melanjutkan studi ke luar negeri. Hal ini tentu memberikan keuntungan besar dalam mengembangkan kemampuan akademik dan memperluas wawasan (Graddol, D., 2006).

Kedua, dalam hal komunikasi global, bahasa Inggris berperan sebagai bahasa penghubung antarbangsa. Dari diplomasi internasional, dunia bisnis, hingga penggunaan media sosial, bahasa Inggris menjadi alat untuk menyampaikan gagasan dan menjalin kerja sama. Hampir semua konten teknologi dan informasi di internet juga tersedia dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, siapa pun yang menguasainya dapat lebih mudah beradaptasi, terhubung, dan ikut serta dalam percakapan dunia.

Ketiga, dalam dunia kerja, kemampuan berbahasa Inggris sering kali menjadi syarat utama. Perusahaan multinasional dan bahkan banyak perusahaan lokal kini membutuhkan tenaga kerja yang fasih berbahasa Inggris agar dapat menjalin komunikasi dengan klien dan mitra dari berbagai negara. Karyawan yang menguasai bahasa Inggris tidak hanya memiliki nilai tambah, tetapi juga peluang lebih besar untuk berkembang dalam kariernya. Selain itu, bahasa Inggris juga melatih keterampilan berpikir kritis, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperluas wawasan budaya.

Dari penjelasan tersebut jelas terlihat bahwa bahasa Inggris bukanlah sekadar bahasa asing, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan seseorang dengan masa depan yang lebih baik. Belajar bahasa Inggris berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia yang terus berkembang. Dengan menguasai bahasa ini, kita bisa memperoleh pendidikan terbaik, menjalin komunikasi tanpa batas, serta meraih karier yang lebih luas.

Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama menumbuhkan semangat untuk belajar bahasa Inggris sejak dini. Tidak perlu takut melakukan kesalahan, karena setiap proses pembelajaran akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju impian kita (Citizenship Education: Preparing Learners for the Challenges of the 21st Century). Bahasa Inggris adalah kunci utama yang akan membuka pintu menuju masa depan yang cerah, penuh peluang, dan tanpa batas.

Senin, 22 Desember 2025

ARIE PNG ADADUA (Palembang)

KISAH SEEKOR BANGAU (RANGGUNG)

 


Seekor bangau (ranggung) migrasi sendiri

Sampai ke tanah berair

Kaki kanannya pincang terjerat akar belukar

Akar belukar penjebak gajah putih

Pilihan yang terlanjur meski hancur bagai bubur

Asalkan dapat ikan-ikan segar

 

Musim berubah, senja sepenuhnya jingga

Bangau (ranggung) terikat pepatah – kembali ke pangkuan bunda

Menyambangi kekasih sejati

Menulis kisah tak biasa

Tentang bintang, bulan, dan dewi

Lalu berseru :

Lihatlah! Di kaki kananku ada belalai!

 


Musi Banyuasin, 11-04-2023

Dimuat dalam Antologi Kulminasi
Dari Negeri Poci ke-13









Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan

Ghaliz Syida Zihni

 

Alam telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia, mulai dari kebutuhan dasar hingga kelangsungan hidup. Hutan yang hijau dan lebat menyediakan oksigen yang kita hirup setiap hari. Sungai-sungai yang mengalir jerrich memberikan air bersih yang kita butuhkan untuk minum, mandi, dan mencuci. Bumi yang subur memberikan kita makanan yang melimpah. Namun, kenyataan lingkungan kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, banyak masyarakat yang tidak peduli dengan Kelestarian alam. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil wawancara kami bersama masyarakat.

“Apa pendapat kalian tentang hutan yang makin gundul?” tanya salah satu anggota kami.

“Gak masalah, yang penting gak ngaruh ke aku, “jawab remaja yang berambut keriting, bernama Anton.

“Iya, gak penting penting banget sih.” Tambah teman sebelahnya.

“Bagaimana kalian berpikir tentang masa depan lingkungan?”

“Nggak kepikiran, masih lama.”

“Teknologi yang atasi, kita gak perlu mikirin.”

“Pesan apa yang kamu ingin sampaikan?”

“Lakukan apa yang kamu mau. Jangan tertalu serius, hidup santai aja.” Ucap Anton tanpa ragu.

Nyata benar ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan, dapat mencerminkan begitu banyak manusia yang masih mementingkan keuntungan pribadi yang sesaat. Mereka menebangi hutan secara liar, mencemari sungai, dan mengotori laut. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka, yang penting mereka mendapatkan keuntungan sesaat.

Sebaliknya, disamping ketidakpedulian mereka ada juga orang-orang yang peduli seperti penulis-penulis yang terinspirasi untuk berkarya tentang alam, salah satunya. “ Silent Spring” oleh Rachel Carson diterbitkan pada tahun 1962. Silent Spring dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah gerakan lingkungan hidup. Dan ada satu hal lagi yang lebih mengejutkan tentang alam, yaitu… Peran Naticre of science (NOS) dalam pengembangan Literasi sains. Abdict El-Khalick mengarisbawahi bahwa pemahaman Nos bukan sekadar pengetahuan tentang metode ilmiah, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas tentang bagaimana aktivitas ilmiah bertangsung sebagai upaya manusia untuk memahami fenomena alam (Abd El-Khalick. F., 2013).

Seperti peribahasa yang mengatakan, “Sambil menyelam, sambil minum air. Artinya, kita harus bisa memanfaatkan alam dengan bijak dan menjaga kelestariannya. Dengan demikian, kita dapat menikmati hasilnya secara berkelanjutan.

Saya teringat akan kisah kecil tentang seorang anak yang menanam pohon. Setelah beberapa tahun, pohon ite tumbuh besar dan memberikan naungan bagi anak-anak lain yang bermain di sekitarnya. Anak itu senang melihat hasilnya dan terus menanam pohon-pohon lainya.

Pertanyaan untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menjaga alam? Apakah kita akan terus merusaknya atau mulai menjaga dan melindunginya? Mari kita berpikir dan bertindak untuk masa depan kita sendiri. Jika bukan kita siapa lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Marsyella, 2004 .Id. 2024. “10 Buku Tengtang Alam Yang Akan Mengubah Cara Anda Melihat Dunia”. ruangbuku.id. Diakses 15 Septemper 2025.

Sri Astutik Handayani. 2025. ”Peran Nature of Science (NOC) Dalam Perkembangan Litesi Sains”. Congnitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Diakses 15 september 2025.

 

SUASANA MAKAN MALAM YANG SANGAT SPESIAL

Syaiful B. Harun

 

 

Dahulu, kebiasaan makan di keluargaku adalah suatu hal yang sangat spesial. Ada semacam “ritual” yang harus kami jalani sebagai anggota keluarga, terutama kami sebagai anak-anak. Hal itu aku alami sejak usia anak-anak sampai aku berusia remaja atau sebelum aku ke luar rumah untuk melanjutkan pendidikan di kota lain. Kebiasaan makan bersama harus dijalani oleh setiap anggota keluarga, terutama saat makan malam, dimana saat semua anggota keluarga berkumpul setelah aktivitas di siang hari.

Aku harus duduk di samping ayah, yang saling berhadap-hadapan dengan ibu dan adik perempuanku. Tempat duduk ini tidak boleh diubah. Sudah ketetapan ayah termasuk waktu makan, yaitu sekitar pukul 19.30 WIB atau setelah shalat isya. Selain itu, makan makan dengan sendok dan garpu tanpa menimbulkan suara klentang-klenting atau mulut yang berkecap-kecap. Kalau suara itu timbul, maka timbul pula kemarahan ayah.

Ketetapan tentang waktu makan, kursi makan yang seolah ada nama kami – sebagai anggota keluarga – tertulis di sana, dan segenap tata cara yang harus dipatuhi merupakan hal yang sangat menyiksaku, waktu itu. Sebagai anak remaja, ingin aku sekali waktu makan sambil menonton tivi atau mengobrol dengan adikku, Rega. Padahal makan sambil menonton tivi atau mengobrol dengan saudara kerapkali kusaksikan di sinetron atau film-film.

Sekarang, setelah aku kuliah di lain kota, aku memiliki kebebasan untuk menentukan waktu makan dan mengabaikan segala tata cara makan malam yang ditetapkan ayah. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama, aku justru merindukan kursi makan kami di rumah dengan waktu makan dan tata cara itu.

Untuk sedikit mengurangi rinduku pada kursi makan, waktu makan, dan tata caranya. Aku mencoba mencari di google, kudapatkan informasi tentang manfaat makan bersama, antara lain :

-         Makan bersama memberi kesempatan untuk menjadi contoh kebiasaan makan sehat pada anak. Orang tua bisa membantu memberi contoh porsi makanan yang cukup, mencoba makanan-makanan baru, dan berhenti makan ketika sudah kenyang.

-         Makan bersama juga akan meningkatkan asupan gizi untuk anggota keluarga. Sebagai contoh, beberapa studi menunjukkan bahwa makan bersama secara teratur sering dikaitkan dengan meningkatnya konsumsi buah, sayuran, gandum, dan pilihan makanan sehat lainnya, serta makin berkurangnya konsumsi makanan berlemak, minuman bersoda, dan pilihan makanan yang kurang sehat lainnya.

-         Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa makan bersama juga mengurangi risiko obesitas pada anak-anak dan orang dewasa.

-         Makan bersama membuat orang tua dapat tetap mengawasi anak secara tidak langsung melalui percakapan santai. Orang tua dapat memonitor suasana hati anak, perilaku, dan aktivitasnya bersama teman-teman.

Di masa yang akan datang, di kehidupan yang semakin berpacu dengan waktu dan tingkat persaingan yang terjadi di setiap lini kehidupan. Sehingga, waktu akan menjadi sangat berharga, serba terburu-buru, serba matematis dan otomatis yang diatur dan diprogram melalui perangkat komputer atau handphone pada setiap orang.

Makan malam dengan kelengkapan meja dan kursi makannya, mungkin hanya akan dihadiri oleh orang tua dan anak-anak balita saja. Orang dewasa bahkan ayah yang sibuk bekerja pun akan jarang terlihat di kursi makan. Kehangatan sebuah keluarga yang tercermin di dalam kehangatan makan malam dan obrolan ringan tentang aktivitas di siang hari dan rencana kegiatan esok akan menjadi memudar – kalau tidak mau kita katakan akan menjadi hilang.

Hanya keluarga yang menarik batas yang tegas, antara aktivitas di luar rumah dengan keharmonisan antaranggota keluarga saja yang akan tetap menjaga keakraban suasana makan malam di rumah.

 

Referensi :

Vidoran.com. 2022. Manfaat Makan Bersama di Meja Makan. www.vidoran.com.iakses pada tanggal 2 Februari 2023.

 



Tanah Pak Haji dan Taman Wisata Alam Punti Kayu:
Napas Hijau Kota Palembang

Muhammad Bardan


Di tengah Kota Palembang, di kawasan Kambang Iwak menuju Alang-alang Lebar, terbentang sebuah kawasan hijau yang masih lestari: Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan pinus alami yang berada di dalam wilayah perkotaan Palembang dan telah lama menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan [1].

Secara historis, kawasan ini telah ditetapkan sebagai hutan lindung sejak tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian pada 23 Juli 1985, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 88/Kpts-II/1985, statusnya ditingkatkan menjadi Taman Wisata Alam (TWA) [2]. Dengan luas sekitar 50 hektare, kawasan ini menjadi paru-paru kota yang sangat penting bagi ekosistem Palembang.

Di masa lalu, warga sekitar mengenal bagian tepi hutan ini sebagai “Tanah Pak Haji”, mengacu pada seorang tokoh lokal yang sering mengingatkan warga untuk menjaga pepohonan di sekitar wilayah itu. Meski sosok ini tidak tercatat dalam dokumen resmi, kisah lisan tentangnya masih hidup dalam ingatan masyarakat sekitar Sako dan Kemuning. Beliau dikenal sebagai penjaga moral lingkungan – mengajarkan agar tanah dan hutan diperlakukan sebagai amanah, bukan semata milik pribadi.

Dengan semangat itu, masyarakat sekitar turut berperan menjaga kebersihan dan kelestarian hutan, hingga akhirnya kawasan tersebut menjadi cikal bakal Taman Wisata Alam Punti Kayu yang dikenal sekarang [3].

Kini, TWA Punti Kayu berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan. Selain menjadi kawasan konservasi, taman ini juga berfungsi sebagai objek wisata edukatif dan rekreasi keluarga [4].

Di dalam taman terdapat beragam flora dan fauna, mulai dari pohon pinus merkusii, hingga satwa-satwa seperti rusa timor, kera ekor panjang, burung elang, buaya, dan gajah Sumatera yang dikelola dalam area kebun binatang mini [5]. Fasilitas pendukung juga terus berkembang, seperti area piknik, wahana permainan air, jembatan gantung, hingga spot foto alami yang menarik pengunjung dari berbagai daerah [6].

Selain fungsi ekologis, taman ini memiliki nilai sosial dan ekonomi. Banyak warga sekitar menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisata ini, seperti menjadi penjaga, pedagang makanan, penyedia sewa kuda, dan pemandu wisata. Dengan demikian, Punti Kayu bukan hanya ruang hijau, tapi juga sumber kehidupan masyarakat lokal.

Namun, keberlanjutan taman ini tidak lepas dari tantangan. Aktivitas manusia, peningkatan jumlah pengunjung, serta ancaman kebakaran pada musim kemarau kerap menjadi masalah yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pihak pengelola bersama pemerintah terus melakukan rehabilitasi lahan, patroli kebersihan, dan penyuluhan lingkungan bagi pengunjung [7].

Kesadaran masyarakat pun menjadi kunci utama. Mengingat bahwa TWA Punti Kayu berperan penting dalam menyerap karbon dan menjaga iklim mikro kota Palembang, menjaga kelestariannya berarti menjaga kesehatan kota itu sendiri [8].

Dengan meningkatnya pembangunan kota, terutama di wilayah barat Palembang, ruang terbuka hijau semakin terbatas. Maka dari itu, TWA Punti Kayu harus menjadi model pengelolaan hutan kota berkelanjutan, tempat di mana konservasi dan wisata bisa berjalan berdampingan [9].

Konsep eco-tourism yang menekankan edukasi lingkungan perlu terus dikembangkan. Misalnya, setiap pengunjung diberi edukasi interaktif melalui QR code di setiap jenis pohon, atau program adopsi pohon untuk sekolah-sekolah di Palembang. Dengan pendekatan seperti ini, generasi muda bisa lebih memahami nilai ekologis kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah kota dan akademisi dari Universitas Sriwijaya telah melakukan kajian bahwa Punti Kayu dapat dijadikan laboratorium ekowisata yang menghubungkan riset kampus dengan kegiatan konservasi lapangan [10]. Upaya ini juga dapat membuka peluang ekonomi baru melalui wisata hijau yang tetap menjaga fungsi lingkungan.

Semangat “Tanah Pak Haji” bisa dimaknai kembali di masa depan sebagai falsafah moral masyarakat Palembang: bahwa kemajuan tidak boleh menyingkirkan alam, dan tanah yang subur harus menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.

Jika masyarakat tetap menjaga komitmen itu, maka TWA Punti Kayu bukan sekadar taman wisata, melainkan simbol kesadaran ekologis Palembang yang hidup – dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.

Kisah “Tanah Pak Haji” dan Taman Wisata Alam Punti Kayu adalah cerminan hubungan manusia dan alam di tengah dinamika zaman. Dari sejarah kolonial hingga era modern, taman ini menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan masih mungkin dijaga.

Punti Kayu bukan sekadar tempat berlibur, tetapi ruang hidup yang mengajarkan arti syukur dan tanggung jawab terhadap bumi.
Sebagaimana kata bijak yang sering diingat warga tua di sekitar taman:
“Tanah yang dijaga dengan iman, akan menumbuhkan kehidupan. Tapi tanah yang dilupa, akan melahirkan kehilangan.”


Daftar Pustaka
[1] Wikipedia. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Wisata_Alam_Punti_Kayu
[2] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan. (2023). Profil Taman Wisata Alam Punti Kayu. Palembang: BKSDA Sumsel.
[3] Sumeks Radio – Disway. (2023). Kenali Sejarah Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang. Diakses dari https://sumeksradio.disway.id/read/11568
[4] Indonesia Kaya. (2022). Punti Kayu, Hutan Wisata di Tengah Kota Palembang. Diakses dari https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/punti-kayu-hutan-wisata-di-tengah-kota/
[5] Detik Travel. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Surga Pinus di Sumatera Selatan. Diakses dari https://www.detik.com/sumbagsel/wisata/d-6765385
[6] Monoloog Hotels Info. (2024). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Pinus di Tengah Kota Palembang.
[7] Universitas Sriwijaya. (2020). Efektivitas Pengusahaan Taman Wisata Alam Punti Kayu. Repository UNSRI.
[8] Travels.id. (2023). Taman Wisata Alam Punti Kayu – Wisata Edukasi dan Konservasi di Palembang.
[9] FISIP UNSRI. (2021). Analisis Pembangunan dan Manajemen Taman Wisata Alam Punti Kayu.
[10] Info-Target. (2025). Taman Wisata Alam Punti Kayu, Wisata Tertua di Kota Palembang.

Rabu, 17 Desember 2025

APA PENDAPATMU, JO... TENTANG PERKEMBANGAN WAYANG KULIT?

 

Mengapa kakek atau mbah kita dahulu sangat gandrung dengan wayang kulit? Mungkin kita dapat mengajukan beberapa jawabannya, antara lain, pertama zaman duhulu itu belum ada media hiburan sebagaimana zaman sekarang. Waktu itu hiburan mengharuskan penikmatnya hadir langsung di tempat dilaksanakannya pertunjukan tersebut. Kedua, kisah tentang Ramayana atau Bharatayuda merupakan kisah yang tidak ada alternatif sebagaimana zaman sekarang.

Ketika pertanyaan serupa itu kutanyakan kepada temanku Bejo Suharjo yang akrab dipanggil Jojo. “Kawan, pertanyaanmu itu apakah masih relevan dengan zaman kita yang sudah supercanggih ini?” Jojo malah balik bertanya.

“Begini, Jo, aku cuma inginsedikit mengetahui pendapatmu tentang apa yang menjadi alasan terpenting bahwa kakek atau mbah kita dahulu sangat gandrung dengan wayang kulit?” kucoba meyakinkan Jojo.

“Kalau begitu, ayo... kita ke perpustakaan,” ajak Jojo dengan bersemangat.

Tanpa membuang waktu lagi langsung kuseret lengan Jojo bergegas ke perpustakaan kampus yang berada di gedung belakang dekat kantin.

Ternyata wayang kulit merupakan karya asli bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Dengan begitu menggugurkan pendapat, bahwa wayang kulit berasal dari India tepatnya India Selatan (Andhra Pradesh dan Kerala) seiring dengan masuknya agama Hindu ke Nusantara. Teori ini bukan asal pengakuan tapi didukung oleh sumber-sumber sejarah serta didukung beberapa pakar dari berbagai negara, antara lain Brandes, Hazeau, dan Rassers.

Kendati sedikit agak bervariatif namun tidak satu pun yang meragukan kalau wayang kulit itu budaya asli orang Jawa. Brandes mendasarkan bahwa istilah-istilah yang digunakan asli bahasa Jawa. Sedangkan budayawan Belanda Dr. GA. J. Hazeau dalam disertasinya yang berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche (1897) memaparkan bahwa beberapa nama peralatan seperti wayang, kelir, blencong, kotak, dalang, dan cempala tidak terdapat dalam bahasa Sanskerta. Hazeau juga memberikan argumen bahwa wayang kulit berasal dari penyembahan ruh nenek moyang. Orang Jawa purba mempunyai kepercayaan ruh nenek moyang dapat muncul kembali ke dunia dalam wujud bayangan. Untuk menghormati nenek moyang itu maka dibuatlah gambar-gambar yang menyerupai nenek moyang, yang kemudian dikelir.

Senada dengan itu Rassers mengemukakan pendapat bahwa wayang kulit berasal dari totemisme di Jawa, yaitu suatu kepercayaan prasejarah kepada benda-benda keramat, sehingga Rassers sangat yakin wayang kulit berasal dari tanah Jawa. Perkembangan selanjutnya, ketika Hindu datang maka terjadilah akulturasi Jawa-Hindu sehingga wayang kulit diisi dengan cerita Hindu yaitu epos Mahabharata dan Ramayana.

Apakah wayang kulit juga tak lekang oleh panas dan tak luntur oleh hujan? Pertanyaan yang kita angkat dari peribahasan ini segaja kita ajukan buat mengetahui keberadaan wayang kulit dewasa ini.

Fungsi awal wayang kulit sebagai media ekspresi kebudayaan yang menghibur juga merupakan media pendidikan dan informasi. Coba kita tunjau fungsi wayang kulit di zaman supercanggih sekarang ini.

Wayang sebagai media hiburan, karena wayang kulit dapat dipakai di dalam berbagai macam keperluan sebagai hiburan di tengah masyarakat.  Namun, kenyataan bahwa media hiburan baik berupa audio-visual sudah dapat dinikamati masyarakat dari rumah-rumah mereka, bahkan dapat disimpan dan ditonton kapan pun waktunya. Sehingga pertunjukan wayang kulit sebagai media hiburan telah tergantikan dalam wujud yang lebih bervariatif.

Wayang sebagai media pendidikan, karena wayang ditinjau dari segi isinya, dapat banyak memberikan pengajaran kepada penikmatnya, terutama berkenaan dengan budi pekerti, mental, dan watak. Akan tetapi, mengamati tentang merosotnya nilai-nilai budi perkerti, mental, dan watak bangsa kita dewasa ini. Relevansi atau tidak, ini membuktikan bahwa wayang kulit sebagai media pendidikan pudar peranannya.

Wayang sebagai media informasi, karena wayang kulit sangat komunikatif dari segi penampilan sehingga dapat dipakai sebagai alat untuk memberikan informasi mengenai masalah-masalah kehidupan di tengah masyarakat. Dengan kemajuan teknologi informatika dewasa ini terutama lewat berbagai aplikasi dan media sosial, sehingga memudahkan arus informasi hanya dalam hitungan detik. Maka fungsi wayang kulit sebagai media informasi dinilai lamban dan mahal.

Aku bertanya kepada temanku Jojo, “Jo, apa pengalamanmu sewaktu menonton wayang kulit. Bukankah kamu anak orang Jawa tulen?”

“Meski aku anak orang Jawa tapi aku kelahiran Sumatera. Aku tidak pernah sengaja menonton wayang kulit. Pernah bapakku nanggap wayang kulit, itu pun sewaktu aku dikhitan dulu.”

“Kalau begitu, apa pendapatmu, Jo... tentang perkembangan wayang kulit di masa yang akan datang?” tanyaku serius pada Jojo.

"Nanti saja aku jawab dalam tugas karya tulis ilmiah kita pada bab Mekanika Menulis. Sekarang, ayo... kita ngopi di kantin."

 

Sumber :

Syaiful B. Harun. 2022. Menulis Nonfiksi. Banyuasin: Buletin dan Penerbitan Kitab YPD AKUIS. Dengan sedikit perubahan.

 


 OBAT RINDU

Diyah Ayu Puspitasari


 

   Obat rindu sebab kehilangan sesosok yang kita cintai. Mulai dari kehilangan kehadirannya atau perhatian atau interaksi dengan seseorang yang kita anggap penting itu, bukanlah dengan menghapus ingatan melainkan merawat kenangan yang pernah ada.

   "Aku rindu," bisikku lirih.

   "Aku tahu, tapi... jangan biarkan rindumu itu jadi luka, tetapi jadi do'a," kata temanku meyakinkan.

   Nyatanya benar, obat rindu itu dengan kita mendo'akannya. Tetapi, dapat juga dengan bertemu langsung atau dengan panggilan suara atau video.

   Tahukah kamu, lebih dari 70% orang yang pernah kehilangan, mengaku bahwa rasa rindu adalah emosi yang paling sulit mereka hadapi. Banyak juga orang-orang yang bertanya: adakah obat yang benar-benar mampu menyembuhkan rindu bagi hati yang kehilangan seorang tercinta yang sudah tiada?

   Waktu adalah tabib segala luka. Begitu pula dengan rindu. Perlahan dia akan mengajarkan hati menjadi kuat.

   Pernah suatu malam aku duduk sendiri di atas kasur kamarku. Aku mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dimana seseorang yang kucintai pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kubuka buku diaryku, di sana terdapat tulisan tangan yang tidak karuan, tetapi masih dapat dibaca. Juga, terselip foto dirinya dengan tersenyum bahagia. Awalnya aku sedih, namun kini menjadi bahagia. Karena dari situ aku mulai menyadari, bahwa kenangan itu bisa menjadi obat, bukan hanya luka. Kemudian, aku pun teringat sebuah artikel yang pernah kubaca, jika kita mengenang kembali memori indah pada masa lalu, maka dapat membantu meredakan rasa kesepian, mencegah depresi, hingga meningkatkan kesejahteraan hidup.

   Ternyata kunci obat rindu itu bukan melupakannya, melainkan belajar menerima dan ikhlas, bahwa cinta tetap hidup meskipun sosoknya telah tiada. "Tapi... apakah kenangan manis tidak berubah menjadi luka saat diingat?" Maka, obat rindu adalah keberanian menatap masa depan tanpa melepas masa lalu.

 

​Daftar Pustaka

 

​Hello Sehat. 2024 “7 Cara Menghilangkan Rasa Kangen Yang Sangat Mendalam” https://hellosehat.com. 15 September 2025.

Imelda Rahmawati. 2023 “5 Cara Mengobati Rindu Biar Terobati, Mudah Kok!”. yoona.id.. Diakses 15 September 2025.                                

 

ASMARA YANG TERHUKUM ZAMAN

 Aufa Mafaza 


Masa penjajahan Jepang di Indonesia selalu diingat dengan cerita pahit: kerja paksa, jugun ianfu, dan teror yang merenggut kebebasan. Namun, di sela-sela bayang kelam itu, ada kisah yang lembut tapi tak kalah pedih. kisah cinta antara seorang gadis pribumi dan tentara Jepang. Cinta yang lahir bukan di taman damai melainkan di tanah penuh luka.

“Kenapa kau menemuinya lagi?” tanya seorang sahabat dengan nada cemas.

“Aku tahu dia bagian dari mereka. Tapi, di hadapannya, aku hanya merasa menjadi manusia, bukan sekadar orang jajahan,” kata-kata gadis itu dengan suaranya bergetar menggantung, menabrak dinding antara perasaan pribadi dan tuntutan sejarah.

Malam-malam yang gelap menjadi saksi. Sang tentara berjalan pelan ke gubuk bambu di pinggir sawah, membawa sepotong roti kering – makanan mewah pada masa itu. Sang gadis menyalakan pelita sebagai tanda dia menunggu. Dalam hening, keduanya berbagi makanan dan cerita. Seakan-akan perang tak pernah ada.

Bagaimana cinta bisa bersemi di tanah yang penuh darah dan air mata? Apakah hati manusia bisa begitu buta atau justru begitu berani menantang garis takdir? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat siapa pun yang mendengarnya merenung: cinta ternyata tak pernah tunduk pada aturan bangsa, tapi selalu menuntut tempatnya sendiri.

“Cinta ini seperti embun di ujung daun,” ungkap sang gadis itu suatu kali. “Indah sesaat tapi bisa hilang sekejap oleh panas matahari.” Kalimat itu menyentuh, karena dia tahu kebersamaan mereka tak akan panjang. Meski rapuh namun dia tetap memilih untuk menjaganya. Seakan-akan setiap detik adalah hadiah.

Orang tua di desa masih bercerita tentang Maesaroh, seorang perempuan yang dulu dikucilkan karena mencintai tentara Jepang. Dia meninggal tua dan kesepian tapi di kotak kecil yang ditinggalkannya, ditemukan secarik kertas bertuliskan huruf Jepang: “Aishiteru.” Entah itu janji, entah itu penyesalan – tapi jelas ada hati yang pernah bergetar di tengah perang.

Kini, bila kita menoleh ke belakang, apakah kisah cinta seperti ini hanya layak disebut pengkhianatan? Ataukah dia adalah bukti bahwa di tengah penindasan, manusia tetap mencari kasih? Mungkin jawabannya tak pernah pasti, tetapi satu hal jelas: cinta pada masa penjajahan adalah cinta yang mengharukan karena ia berani hidup di tengah badai.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gyo000223. 2025. Surat dari Timur. https://www.tiktok.com. Di akses 29 Juli 2025

Parist.id. 2018. Merasakan Getir Cinta dalam Suasana Perang. https://www.parist.id. Diakses 11 Agustus 2025.

Sabbiruuuw. 2025. Cinta di Tanah Jajahan. https://www.tiktok.com. Diakses 29 Juli 2025.

Yovita Arika. 2018. Ronggeng Kalawu, Kisah Perjuangan Ronggeng di Masa Penjajahan Jepang. Kompas.id. 2025. kompas.id. Diakses 11 Agustus 2025.

 

 

 

 

Kamis, 04 Desember 2025

Teman Seperjalanan

Arie Png Adadua

 

sebelum ini aku telah menemani

kemana pun engkau langkahkan kaki

kala berdiam diri pun aku tameng dirimu sejati

 

jauh sebelum ini banyak tenaga dan waktu

kamu kerahkan segenap kemampuan tiada terperi

untuk dapatkan diriku lebih dari istri

yang hakiki sampai tiada lagi ruang dan waktu

 

hari ini, kutinggalkan engkau seorang

sudah sampai pada batas kita

pertanggungjawabkan untuk semua kebersamaan kita

teruslah kembara aku harus pulang

menjadi warismu di dunia

 

Sekayu, 08-04-2022
Dimuat dalam Antologi Raja Kelana
Dari Negeri Poci ke-12



 

KELABU

Qanita Nabil Dina


Di ketinggian bak mercusuar, di bawah naungan langit nan gelap. Dia berdiri di perbatasan antara hening jiwa dan riuh kota. Dia suka memandang ribuan lilin kota yang menyalakan panggung malam yang megah. Dari ketinggian itulah dia dapat menemukan kedamaian yang asing namun begitu akrab.


​Dia menyalakan bara api kecil, membiarkan asapnya berbaur dengan angin malam. Setiap tarikannya menciptakan jejak uap yang hilang ditelan pekatnya langit. Dia terhanyut dalam dialognya bersama bara api kecil itu. Asapnya mengepul perlahan, mengukir kata demi kata dalam malam. Namun, sebuah tangan dingin merampas cahaya dari jemarinya. Sunyi seketika pecah oleh kejutan. Pemilik tangan dingin itu menginjak bara api kecil yang baru saja dirampasnya hingga tak tersisa. Pemilik tangan dingin itu menatapnya dalam. Bukan dengan marah, melainkan duka.


​"Bukankah sudah saya peringatkan, Nona Moza?" tanya pemilik tangan dingin itu kepadanya yang masih membeku di tempatnya. Lalu pemilik tangan dingin itu melanjutkan ucapannya, "Kamu adalah bunga yang tak selayaknya layu oleh asap, sebuah mahakarya yang tak pantas diselimuti oleh kabut. Biarkan napasmu murni, bukan dicuri oleh kesenangan yang hanya sesaat."


​Belum sempat Moza mengeluarkan suara, pemilik tangan dingin itu kembali berucap, "Asap itu hanya kabut penipu, dia tidak akan pernah mampu memadamkan api kelelahan yang membakar jiwamu. Burnout itu, adalah jeritan hati, bukan dahaga nikotin. Kamu harus menghadapinya dengan istirahat, bukan dengan kesenangan sesaat."


​Tidak ada sepatah kata pun yang ke luar dari mulut Moza. Dia diam membeku, tidak ada protes yang tersampaikan.


​"Abang tahu penyakit itu bukan hanya sekedar rasa sakit, dia juga pencuri warna, dia merampas merah dari semangatmu dan biru dari langit harapan. Sehingga, menjadikan hari-harimu seperti kanvas yang hanya dibasahi kelabu. Itu yang kamu rasakan bukan? Tak tentu arah dan semuanya serba salah," ucap sang kakak berusaha meringankan beratnya atmosfer yang tercipta di antara keduanya.


​"Moza bingung dan tidak menemukan cara untuk mengatasinya. Isi kepala Moza sangat berisik. Hal itu membuat Moza terisik. Jadi, Moza memilih opsi itu untuk mencari ketenangan," ucap Moza yang akhirnya buka suara.


​Sang kakak lalu memegang kedua pundak adiknya dengan pandangan yang mencoba meyakinkannya. Kemudian dia berkata, "Cara mengusir kabut kelabu itu bukanlah dengan api yang menyesatkan. Yang kamu butuhkan bukan jeda yang beracun. Melainkan sunyi yang menyembuhkan. Pahamilah, mana yang harus kamu genggam erat dan mana yang harus kamu biarkan pergi. Dan ingatlah, kamu tidak sendiri."


​Moza langsung menghambur ke dalam pelukan sang kakak. Seraya berkata, "Terima kasih atas segala kekhawatiran ini. Moza janji: akan berusaha untuk sembuh."


Referensi :

Alodokter. 2024. Ciri-ciri Burnout dan Cara Mengatasinya. https://www.alodokter.com. Diakses 18 September 2025.

Universitas Esa Unggul. 2025. Burnout pada Mahasiswa: Tanda Bahaya yang Sering Terabaikan. https://www.esaunggul.ac.id. Diakses 18 September 2025.