ASMARA YANG TERHUKUM ZAMAN
Masa penjajahan Jepang di Indonesia selalu diingat dengan cerita
pahit: kerja paksa, jugun ianfu, dan teror yang merenggut kebebasan. Namun, di
sela-sela bayang kelam itu, ada kisah yang lembut tapi tak kalah pedih. kisah cinta
antara seorang gadis pribumi dan tentara Jepang. Cinta yang lahir bukan di
taman damai melainkan di tanah penuh luka.
“Kenapa kau menemuinya lagi?” tanya seorang sahabat dengan nada
cemas.
“Aku tahu dia bagian dari mereka. Tapi, di hadapannya, aku hanya
merasa menjadi manusia, bukan sekadar orang jajahan,” kata-kata gadis itu dengan
suaranya bergetar menggantung, menabrak dinding antara perasaan pribadi dan
tuntutan sejarah.
Malam-malam yang gelap menjadi saksi. Sang tentara berjalan pelan
ke gubuk bambu di pinggir sawah, membawa sepotong roti kering – makanan mewah
pada masa itu. Sang gadis menyalakan pelita sebagai tanda dia menunggu. Dalam
hening, keduanya berbagi makanan dan cerita. Seakan-akan perang tak pernah ada.
Bagaimana cinta bisa bersemi di tanah yang penuh darah dan air
mata? Apakah hati manusia bisa begitu buta atau justru begitu berani menantang
garis takdir? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat siapa pun yang mendengarnya
merenung: cinta ternyata tak pernah tunduk pada aturan bangsa, tapi selalu
menuntut tempatnya sendiri.
“Cinta ini seperti embun di ujung daun,” ungkap sang gadis itu suatu
kali. “Indah sesaat tapi bisa hilang sekejap oleh panas matahari.” Kalimat itu
menyentuh, karena dia tahu kebersamaan mereka tak akan panjang. Meski rapuh
namun dia tetap memilih untuk menjaganya. Seakan-akan setiap detik adalah
hadiah.
Orang tua di desa masih bercerita tentang Maesaroh, seorang
perempuan yang dulu dikucilkan karena mencintai tentara Jepang. Dia meninggal
tua dan kesepian tapi di kotak kecil yang ditinggalkannya, ditemukan secarik
kertas bertuliskan huruf Jepang: “Aishiteru.” Entah itu janji, entah itu
penyesalan – tapi jelas ada hati yang pernah bergetar di tengah perang.
Kini, bila kita menoleh ke belakang, apakah kisah cinta seperti ini
hanya layak disebut pengkhianatan? Ataukah dia adalah bukti bahwa di tengah
penindasan, manusia tetap mencari kasih? Mungkin jawabannya tak pernah pasti,
tetapi satu hal jelas: cinta pada masa penjajahan adalah cinta yang mengharukan
karena ia berani hidup di tengah badai.
DAFTAR PUSTAKA
Gyo000223. 2025. Surat dari Timur. https://www.tiktok.com. Di akses 29 Juli
2025
Parist.id. 2018. Merasakan Getir Cinta dalam Suasana Perang.
https://www.parist.id. Diakses 11 Agustus
2025.
Sabbiruuuw. 2025. Cinta di Tanah Jajahan. https://www.tiktok.com. Diakses 29 Juli 2025.
Yovita Arika. 2018. Ronggeng Kalawu, Kisah Perjuangan
Ronggeng di Masa Penjajahan Jepang. Kompas.id. 2025. kompas.id. Diakses 11 Agustus 2025.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar