Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan
Ghaliz Syida Zihni
Alam
telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia, mulai dari kebutuhan dasar
hingga kelangsungan hidup. Hutan yang hijau dan lebat menyediakan oksigen yang
kita hirup setiap hari. Sungai-sungai yang mengalir jerrich memberikan air
bersih yang kita butuhkan untuk minum, mandi, dan mencuci. Bumi yang subur
memberikan kita makanan yang melimpah. Namun, kenyataan lingkungan kita
sekarang sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, banyak masyarakat yang tidak
peduli dengan Kelestarian alam. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil
wawancara kami bersama masyarakat.
“Apa
pendapat kalian tentang hutan yang makin gundul?” tanya salah satu anggota
kami.
“Gak
masalah, yang penting gak ngaruh ke aku, “jawab remaja yang berambut keriting,
bernama Anton.
“Iya,
gak penting penting banget sih.” Tambah teman sebelahnya.
“Bagaimana
kalian berpikir tentang masa depan lingkungan?”
“Nggak
kepikiran, masih lama.”
“Teknologi
yang atasi, kita gak perlu mikirin.”
“Pesan
apa yang kamu ingin sampaikan?”
“Lakukan
apa yang kamu mau. Jangan tertalu serius, hidup santai aja.” Ucap Anton tanpa
ragu.
Nyata
benar ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan, dapat mencerminkan begitu
banyak manusia yang masih mementingkan keuntungan pribadi yang sesaat. Mereka
menebangi hutan secara liar, mencemari sungai, dan mengotori laut. Mereka tidak
memikirkan akibat dari perbuatan mereka, yang penting mereka mendapatkan
keuntungan sesaat.
Sebaliknya,
disamping ketidakpedulian mereka ada juga orang-orang yang peduli seperti
penulis-penulis yang terinspirasi untuk berkarya tentang alam, salah satunya. “
Silent Spring” oleh Rachel Carson diterbitkan pada tahun 1962. Silent Spring
dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah gerakan
lingkungan hidup. Dan ada satu hal lagi yang lebih mengejutkan tentang alam,
yaitu… Peran Naticre of science (NOS) dalam pengembangan Literasi sains. Abdict
El-Khalick mengarisbawahi bahwa pemahaman Nos bukan sekadar pengetahuan tentang
metode ilmiah, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas tentang bagaimana
aktivitas ilmiah bertangsung sebagai upaya manusia untuk memahami fenomena alam
(Abd El-Khalick. F., 2013).
Seperti
peribahasa yang mengatakan, “Sambil menyelam, sambil minum air. Artinya, kita
harus bisa memanfaatkan alam dengan bijak dan menjaga kelestariannya. Dengan
demikian, kita dapat menikmati hasilnya secara berkelanjutan.
Saya
teringat akan kisah kecil tentang seorang anak yang menanam pohon. Setelah
beberapa tahun, pohon ite tumbuh besar dan memberikan naungan bagi anak-anak
lain yang bermain di sekitarnya. Anak itu senang melihat hasilnya dan terus
menanam pohon-pohon lainya.
Pertanyaan
untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menjaga alam? Apakah kita
akan terus merusaknya atau mulai menjaga dan melindunginya? Mari kita berpikir
dan bertindak untuk masa depan kita sendiri. Jika bukan kita siapa lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Marsyella, 2004 .Id. 2024. “10 Buku Tengtang Alam Yang
Akan Mengubah Cara Anda Melihat Dunia”. ruangbuku.id. Diakses 15 Septemper
2025.
Sri Astutik Handayani. 2025. ”Peran Nature of Science (NOC) Dalam Perkembangan Litesi Sains”. Congnitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Diakses 15 september 2025.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar