APA PENDAPATMU,
JO... TENTANG PERKEMBANGAN WAYANG KULIT?
Mengapa kakek atau mbah kita dahulu
sangat gandrung dengan wayang kulit? Mungkin kita dapat mengajukan beberapa
jawabannya, antara lain, pertama zaman
duhulu itu belum ada media hiburan sebagaimana zaman sekarang. Waktu itu
hiburan mengharuskan penikmatnya hadir langsung di tempat dilaksanakannya
pertunjukan tersebut. Kedua, kisah
tentang Ramayana atau Bharatayuda merupakan kisah yang tidak ada alternatif
sebagaimana zaman sekarang.
Ketika pertanyaan serupa itu
kutanyakan kepada temanku Bejo Suharjo yang akrab
dipanggil Jojo. “Kawan, pertanyaanmu itu apakah masih relevan dengan zaman kita
yang sudah supercanggih ini?” Jojo malah balik bertanya.
“Begini, Jo, aku cuma inginsedikit mengetahui pendapatmu tentang apa yang menjadi alasan terpenting bahwa kakek atau mbah kita dahulu sangat gandrung dengan wayang kulit?” kucoba meyakinkan Jojo.
“Kalau begitu, ayo... kita ke
perpustakaan,” ajak Jojo dengan bersemangat.
Tanpa membuang waktu lagi langsung
kuseret lengan Jojo bergegas ke perpustakaan kampus yang berada di gedung
belakang dekat kantin.
Ternyata wayang kulit merupakan karya
asli bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Dengan begitu menggugurkan
pendapat, bahwa wayang kulit berasal dari India tepatnya India Selatan (Andhra
Pradesh dan Kerala) seiring dengan masuknya agama Hindu ke Nusantara. Teori ini
bukan asal pengakuan tapi didukung oleh sumber-sumber sejarah serta didukung
beberapa pakar dari berbagai negara, antara lain Brandes, Hazeau, dan Rassers.
Kendati sedikit agak bervariatif
namun tidak satu pun yang meragukan kalau wayang kulit itu budaya asli orang
Jawa. Brandes mendasarkan bahwa istilah-istilah yang digunakan asli bahasa
Jawa. Sedangkan budayawan Belanda Dr. GA. J. Hazeau dalam disertasinya yang
berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche (1897) memaparkan
bahwa beberapa nama peralatan seperti wayang, kelir, blencong, kotak, dalang,
dan cempala tidak terdapat dalam bahasa Sanskerta. Hazeau juga memberikan
argumen bahwa wayang kulit berasal dari penyembahan ruh nenek moyang. Orang
Jawa purba mempunyai kepercayaan ruh nenek moyang dapat muncul kembali ke dunia
dalam wujud bayangan. Untuk menghormati nenek moyang itu maka dibuatlah
gambar-gambar yang menyerupai nenek moyang, yang kemudian dikelir.
Senada dengan itu Rassers
mengemukakan pendapat bahwa wayang kulit berasal dari totemisme di Jawa, yaitu
suatu kepercayaan prasejarah kepada benda-benda keramat, sehingga Rassers
sangat yakin wayang kulit berasal dari tanah Jawa. Perkembangan selanjutnya,
ketika Hindu datang maka terjadilah akulturasi Jawa-Hindu sehingga wayang kulit
diisi dengan cerita Hindu yaitu epos Mahabharata dan Ramayana.
Apakah wayang kulit juga tak lekang
oleh panas dan tak luntur oleh hujan? Pertanyaan yang kita angkat dari
peribahasan ini segaja kita ajukan buat mengetahui keberadaan wayang kulit
dewasa ini.
Fungsi awal wayang kulit sebagai
media ekspresi kebudayaan yang menghibur juga merupakan media pendidikan dan
informasi. Coba kita tunjau fungsi wayang kulit di zaman supercanggih sekarang
ini.
Wayang sebagai media hiburan, karena
wayang kulit dapat dipakai di dalam berbagai macam keperluan sebagai hiburan di
tengah masyarakat. Namun, kenyataan bahwa
media hiburan baik berupa audio-visual sudah
dapat dinikamati masyarakat dari rumah-rumah mereka, bahkan dapat disimpan dan
ditonton kapan pun waktunya. Sehingga pertunjukan wayang kulit sebagai media
hiburan telah tergantikan dalam wujud yang lebih bervariatif.
Wayang sebagai media pendidikan,
karena wayang ditinjau dari segi isinya, dapat banyak memberikan pengajaran
kepada penikmatnya, terutama berkenaan dengan budi pekerti,
mental, dan watak. Akan tetapi, mengamati tentang merosotnya
nilai-nilai budi perkerti, mental, dan watak bangsa kita dewasa ini. Relevansi
atau tidak, ini membuktikan bahwa wayang kulit sebagai media pendidikan pudar
peranannya.
Wayang sebagai media informasi,
karena wayang kulit sangat komunikatif dari segi penampilan sehingga dapat
dipakai sebagai alat untuk memberikan informasi mengenai masalah-masalah
kehidupan di tengah masyarakat. Dengan kemajuan teknologi informatika dewasa
ini terutama lewat berbagai aplikasi dan media sosial, sehingga memudahkan arus
informasi hanya dalam hitungan detik. Maka fungsi wayang kulit sebagai media
informasi dinilai lamban dan mahal.
Aku bertanya kepada temanku Jojo,
“Jo, apa pengalamanmu sewaktu menonton wayang kulit. Bukankah kamu anak orang
Jawa tulen?”
“Meski aku anak orang Jawa tapi aku
kelahiran Sumatera. Aku tidak pernah sengaja menonton
wayang kulit. Pernah bapakku nanggap
wayang kulit, itu pun sewaktu aku dikhitan dulu.”
“Kalau begitu, apa pendapatmu, Jo...
tentang perkembangan wayang kulit di masa yang akan datang?” tanyaku serius
pada Jojo.
"Nanti saja aku jawab dalam tugas karya tulis ilmiah kita pada bab Mekanika Menulis. Sekarang, ayo... kita ngopi di kantin."
Sumber :
Syaiful B. Harun. 2022. Menulis Nonfiksi. Banyuasin:
Buletin dan Penerbitan Kitab YPD AKUIS. Dengan sedikit perubahan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar