BLOG FITRI MEILY

Rabu, 17 Desember 2025

APA PENDAPATMU, JO... TENTANG PERKEMBANGAN WAYANG KULIT?

 

Mengapa kakek atau mbah kita dahulu sangat gandrung dengan wayang kulit? Mungkin kita dapat mengajukan beberapa jawabannya, antara lain, pertama zaman duhulu itu belum ada media hiburan sebagaimana zaman sekarang. Waktu itu hiburan mengharuskan penikmatnya hadir langsung di tempat dilaksanakannya pertunjukan tersebut. Kedua, kisah tentang Ramayana atau Bharatayuda merupakan kisah yang tidak ada alternatif sebagaimana zaman sekarang.

Ketika pertanyaan serupa itu kutanyakan kepada temanku Bejo Suharjo yang akrab dipanggil Jojo. “Kawan, pertanyaanmu itu apakah masih relevan dengan zaman kita yang sudah supercanggih ini?” Jojo malah balik bertanya.

“Begini, Jo, aku cuma inginsedikit mengetahui pendapatmu tentang apa yang menjadi alasan terpenting bahwa kakek atau mbah kita dahulu sangat gandrung dengan wayang kulit?” kucoba meyakinkan Jojo.

“Kalau begitu, ayo... kita ke perpustakaan,” ajak Jojo dengan bersemangat.

Tanpa membuang waktu lagi langsung kuseret lengan Jojo bergegas ke perpustakaan kampus yang berada di gedung belakang dekat kantin.

Ternyata wayang kulit merupakan karya asli bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Dengan begitu menggugurkan pendapat, bahwa wayang kulit berasal dari India tepatnya India Selatan (Andhra Pradesh dan Kerala) seiring dengan masuknya agama Hindu ke Nusantara. Teori ini bukan asal pengakuan tapi didukung oleh sumber-sumber sejarah serta didukung beberapa pakar dari berbagai negara, antara lain Brandes, Hazeau, dan Rassers.

Kendati sedikit agak bervariatif namun tidak satu pun yang meragukan kalau wayang kulit itu budaya asli orang Jawa. Brandes mendasarkan bahwa istilah-istilah yang digunakan asli bahasa Jawa. Sedangkan budayawan Belanda Dr. GA. J. Hazeau dalam disertasinya yang berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche (1897) memaparkan bahwa beberapa nama peralatan seperti wayang, kelir, blencong, kotak, dalang, dan cempala tidak terdapat dalam bahasa Sanskerta. Hazeau juga memberikan argumen bahwa wayang kulit berasal dari penyembahan ruh nenek moyang. Orang Jawa purba mempunyai kepercayaan ruh nenek moyang dapat muncul kembali ke dunia dalam wujud bayangan. Untuk menghormati nenek moyang itu maka dibuatlah gambar-gambar yang menyerupai nenek moyang, yang kemudian dikelir.

Senada dengan itu Rassers mengemukakan pendapat bahwa wayang kulit berasal dari totemisme di Jawa, yaitu suatu kepercayaan prasejarah kepada benda-benda keramat, sehingga Rassers sangat yakin wayang kulit berasal dari tanah Jawa. Perkembangan selanjutnya, ketika Hindu datang maka terjadilah akulturasi Jawa-Hindu sehingga wayang kulit diisi dengan cerita Hindu yaitu epos Mahabharata dan Ramayana.

Apakah wayang kulit juga tak lekang oleh panas dan tak luntur oleh hujan? Pertanyaan yang kita angkat dari peribahasan ini segaja kita ajukan buat mengetahui keberadaan wayang kulit dewasa ini.

Fungsi awal wayang kulit sebagai media ekspresi kebudayaan yang menghibur juga merupakan media pendidikan dan informasi. Coba kita tunjau fungsi wayang kulit di zaman supercanggih sekarang ini.

Wayang sebagai media hiburan, karena wayang kulit dapat dipakai di dalam berbagai macam keperluan sebagai hiburan di tengah masyarakat.  Namun, kenyataan bahwa media hiburan baik berupa audio-visual sudah dapat dinikamati masyarakat dari rumah-rumah mereka, bahkan dapat disimpan dan ditonton kapan pun waktunya. Sehingga pertunjukan wayang kulit sebagai media hiburan telah tergantikan dalam wujud yang lebih bervariatif.

Wayang sebagai media pendidikan, karena wayang ditinjau dari segi isinya, dapat banyak memberikan pengajaran kepada penikmatnya, terutama berkenaan dengan budi pekerti, mental, dan watak. Akan tetapi, mengamati tentang merosotnya nilai-nilai budi perkerti, mental, dan watak bangsa kita dewasa ini. Relevansi atau tidak, ini membuktikan bahwa wayang kulit sebagai media pendidikan pudar peranannya.

Wayang sebagai media informasi, karena wayang kulit sangat komunikatif dari segi penampilan sehingga dapat dipakai sebagai alat untuk memberikan informasi mengenai masalah-masalah kehidupan di tengah masyarakat. Dengan kemajuan teknologi informatika dewasa ini terutama lewat berbagai aplikasi dan media sosial, sehingga memudahkan arus informasi hanya dalam hitungan detik. Maka fungsi wayang kulit sebagai media informasi dinilai lamban dan mahal.

Aku bertanya kepada temanku Jojo, “Jo, apa pengalamanmu sewaktu menonton wayang kulit. Bukankah kamu anak orang Jawa tulen?”

“Meski aku anak orang Jawa tapi aku kelahiran Sumatera. Aku tidak pernah sengaja menonton wayang kulit. Pernah bapakku nanggap wayang kulit, itu pun sewaktu aku dikhitan dulu.”

“Kalau begitu, apa pendapatmu, Jo... tentang perkembangan wayang kulit di masa yang akan datang?” tanyaku serius pada Jojo.

"Nanti saja aku jawab dalam tugas karya tulis ilmiah kita pada bab Mekanika Menulis. Sekarang, ayo... kita ngopi di kantin."

 

Sumber :

Syaiful B. Harun. 2022. Menulis Nonfiksi. Banyuasin: Buletin dan Penerbitan Kitab YPD AKUIS. Dengan sedikit perubahan.

 


Tidak ada komentar: